Jerawat - Artikel   
SHARING

Autis & 2 Bahasa

Mbak, menurut aku kenapa tidak setuju kalau anak tidak boleh diajar bilingual sedini mungkin. krn menurut beberapa discussion yg aku ikutin, tidak apa˛ dan biasa ok krn dlm satu keluarga bisa saja memang menggunakan dua bahasa atau lebih sbg bahasa pengantar sehari˛. spt misalnya bahasa hokian dan bhs indonesia, lalu bahasa inggris dan bahasa indonesia, lalu bhs inggris dan bhs spanish. bahkan ada yg tiga bahasa sekaligus di lingkungan dia, spt misalnya: bhs indonesia, bhs jawa dan bhs inggris. atau bhs indonesia, bhs inggris dan bhs prancis. Kalau anak yg besar di lingkungan bilingua atau trilingual memang  kemampuan berbahasanya lambat, tapi mereka bisa catch it up kok, dan bukan  berarti itu autisme. spt di article yg sudah aku kirim, penyebab autism itu sendiri belum jelas dan bisa jadi bilingual sbg salah satu penyebab, tapi bisa jadi bukan. krn autisme itu sendiri penyebabnya krn kelainan pada otak, jadi sejak bayi sudah diidap oleh anak. Anakku sendiri, besar di lingkungan bilingual. waktu di jakarta, bhs indonesia dan bhs jawa. setelah di amerika, dia mengenal bhs inggris dan spanish. tapi di rumah kita campuran menggunakan bhs inggris dan indonesia. memang sih dia lambat berbicara, tapi secara global dia mengerti apa yg kita bicarakan dan berusaha untuk meniru. jadi walau anak keliatannya pasif dan ngga bisa ngikutin apa yg kita ajarkan, kita jangan give up dan berhenti mengajarkan kata˛ baru padanya. hal ini jg dialami anak sahabatku yg di paris, dia besar di lingkungan yg berbahasa prancis, inggris dan indonesia (krn mamanya indonesia, papanya prancis). Kemampuan berbahasanya lambat, tapi bukan berarti ia mengidap autisme kan? teman˛ku di amerika jg anak˛nya rata˛ diajar bilingual dari kecil, but setelah agak besar bicaranya lancar˛ saja. memang ada yg agak terlambat berbicara, ada jg yg (mungkin) mengidap autisme, tapi tidak bisa dipukul rata bahwa bilingual menyebabkan autisme. (Ma)

Sekedar nambahin, ada yg trilingual juga di sebuah keluarga yg aku kenal. bhs Indonesia, Perancis dan sunda. Udah gitu sang bapak keukeuh minta tolong supaya anaknya yg masih kecil (waktu itu kelas 1 SD) diajarin bhs Inggris sama suamiku (waktu itu suamiku baru balik dari sekolah di Inggris). Anak-anaknya tampak ceria dan komunikatif. Senang sekali waktu aku main ke sana ada anak yg belum genap 3 tahun bisa merespon aku yg ngomong bhs Indonesia kemudian ngomong ke kakek-neneknya dlm bahasa perancis dan sesekali menimpali gurauan kakaknya dalam bahasa sunda. Lengkap deh. (Ri)

Saya cuman pengen meng-clear-kan pernyataan sebelumnya. Saya sih setuju banget untuk mengajarkan 2 bahasa ke anak sedini mungkin. Dokter anakku juga menyarankan untuk tetap diajarkan 2 bahasa sejak dini, masalahnya cuman kalo anak belum bisa bicara secara normal sesuai umurnya (misalnya seperti anakku waktu hampir 2 tahun, perbendaharaan katanya kurang dari 7 kata), maka lebih baik 1 orang menggunakan 1 bahasa. Jadi misalnya mau diajarkan 2 bahasa, Papanya boleh bahasa Inggris dan Ibunya menggunakan bahasa Indonesia sewaktu berkomunikasi dengannya. Jangan 1 orang mix up 2 bahasa sewaktu berkomunikasi dengan anak tersebut.Kalau anak dapat berbicara sesuai dengan perkembangan umurnya, hal itu sih tidak masalah kok. (Ju)

Dulu juga aku sempat khawatir sama anakku soal telat ngomong ini dan hubungannya sama multilangual.. Tapi kayaknya aku setuju, maksudnya mungkin bukan autis ya, telat ngomong aja. Waktu anakku bayi, lingkungan dia 3 bahasa. Kalau pas kita˛ aja, kita bicara bahasa Indonesia, pas kedatangan tamu Jerman, pakai deh bahasa Jerman, pas ke teman˛ yang berbahasa Ingris, jadilah Inggris. Aku nonton TV cuma CNN doang, saking gak ngarti yang lain, sementara acara anak˛ semua bahasa Jerman. Jadi lah sampai anakku 1,5 tahun belum bisa jelas ngomongnya. Udah sempat diskusi sama DSA nya, tapi tetap DSAnya nyuruh sabar aja. So, satu˛nya kemugkinan aku pikir karena DSAku bilang kecil kemungkinan Kay autis, ya anakku cuma bingung bahasa. Akhirnya, beberapa bulan sebelum ultah keduanya dia, aku bawa dia ke Indonesia, maksudku, kalau emang bener dia bingung bahasa, harusnya dibawa ke Indonesia yang cuma 1 bahasa aja, kemampuan verbalnya bakalan membaik. Dan alhamdulillah, 3 bulan di Indonesia, bukan cuma dia mulai ngomong, malah langsung jadi ceriwis. Sampai sekarang deh. Sekarang ini dia udah mulai TK,dan udah mulai sedikit˛ belajar bahasa Jerman disekolahnya. Sebenarnya anak kecil itu udah bisa ngebedain bahasa, aku sich cuma perhatiin anakku aja, ke teman˛ Indonesiaku, dia lancar ngomong bahasa Indonesia, tapi ke teman˛ Jermanku, dia bakalan bicara was wis wus dengan intonasi yang mirip bahasa Jerman, yang walaupun gak ada yang ngerti, tapi buat
aku udah satu kemajuan, karena dia udah bisa ngeset otaknya untuk switch dari Indonesia ke Jerman. Jadi aku pikir, jangan takut untuk bilingual ke anak, karena kita gak tau seberapa kemampuan dia, yang jelas children are amazing! Asal konsisten, mereka bisa lebih cepat dari kita belajar bahasanya. Karena buat mereka gak ada bedanya bahasa A dan B. karena semua bahasa itu pada dasarnya adalah cara untuk komunikasi, tinggal mereka pilah˛, kalau sama si A bilangnya 'aku mau makan', kalau sama si B ' I wan to eat'... (Mi)

Keponakan suamiku juga ada yg mengalami hal seperti ini juga terakhir ketemu ia umur 2.5 th, belum ada kata-kata yg bisa dia ucapkan cukup jelas dia dibesarkan dalam lingkungan multi bahasa sekali ayahnya WN Amerika keturunan philipina, ibunya Indonesia (Padang) kalau dg Ibu-Bapak pakai bahasa Inggris dg asisten pakai bahasa indonesia di keluarga besar ibu pakai bahasa Padang trus dikeluarga besar bapak pakai bahasa Tagalog (pernah dibawa bbrp waktu ke philipine) Menurut terapisnya memang dianjurkan untuk memilih salah satu bahasa saja Tapi aku belum tau lagi gimana perkembangan dia selanjutnya (Ra)

Autisme dapat dideteksi sebelum 1 th oleh dokter yang mendalami tentang autis. Di Australia yang aku tahu banyak dokter yang mengetahui hal tsb dan laboratoriumnya juga lengkap, kalo gak salah, yang hanya ada 2 lab di Australia & USA. Untuk theraphy karena anak itu punya masalah sehingga belum bisa bicara atau hipper dengan tantrum dsb sebaiknya sebelum umur 3th anak dibawa utk therapy, karena dibawah 3th adalah gold brain utk otak anak. kalo di Indo ada yang tempat theraphynya tdk mau menerima anak diatas 3th. katanya sudah susah
utk ditherapy, tapi saya tdk takut masih banyak yang mau membantu dan pertolongan Allah selalu ada jika kita ikhtiar/mencari jalan keluar. Waktu itu anakku ditanya umur 2th sudah berapa kata yang bisa, perilakunya bagaimana, dipanggil mau lihat? Suka benda yang bundar & diputar˛. Dan tahun lalu aku test rambut, darah, urine lengkap di USA karena di Indo tidak ada (kec. urine). Anakku autis karena hasil labnya utk rambut di kepala anakku banyak logam berat dan beberapa melebihi normal. Di tubuhnya ada jamur yang melebihi normal.  Untuk bahasa aku setuju utk 1 orang 1 bahasa tidak boleh campur˛ nanti anak bingung. (Ir)

Kebetulan anakku autis dan pake dua bahasa, ternyata menurut dokter dan terapis anakku untuk di Malaysia agak susah pake satu bahasa aja. Tapi kalau gara˛ dua bahasa menyebabkan autis aku juga baru denger, kayaknya biar pake satu bahasa juga, anak autis tetep aja jadi autis. Soalnya temenku aseli pake dua bahasa ya anaknya normal˛ aja.moms yang lain juga pasti banyak deh pake bilingual gini. Setuju pendapat kamu, emang udah autis jadi tambah bingung deh dia pake dua bahasa Waktu dulu, memang disarankan aku pake satu bahasa aja biar anakku nggak bingung, cuma buat mempermudah aja. Tapi sekarang aku liat anakku udah ngerti arahan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris. Misalnya dia kalo berhitung one two three tapi kalau ditanya jawabnya iya. Temen˛ yang lain juga gitu, malah yang anak chinesse jadi tiga bahasa, Mandarin, Melayu sama Inggris. (In)

Anakku belon bisa ngomong juga sampai sekarang, umurnya udah 2 1/2 tahun. Dari sebelum umur 2 tahun aku, suami dan mertua udah khawatir akan kemampuan bahasanya. Trus mertuaku bawa dia ke dokter ahli syaraf anak di Jakarta. Dokter tersebut bilang anakku punya gejala autism dan ngasih resep obat penenang. Untungnya aku punya teman yang lagi ambil PhD tentang obat-obatan, temanku saranin untuk jangan dikasih obatnya karena obat itu bisa merusak syaraf anak. Aku juga bawa anakku ke dokter di sini (Australia) dan menurut dokter tersebut anakku tidak punya gejala autism sama sekali. Untuk menentukan apakah anak autis atau tidak baru terlihat sewaktu anak berusia 3 tahun.  Mengenai kemampuan bahasa, dokter disini menyarankan memang kalau anak belum bisa berbicara sebaiknya 1 orang jangan pakai 2 bahasa karena dia akan bingung. Jadi misalnya Ibunya sudah memutuskan menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan anaknya, jangan pakai bahasa Indonesia lagi. Tapi ngga apa-apa kalo Bapaknya pakai bahasa Indonesia, tapi harus konsisten Bapaknya pakai bahasa Indonesia terus untuk berkomunikasi dengan sang anak. Kalau anak sudah bisa bicara normal, baru orang tua boleh pakai 2 bahasa ke anak. Kalau disini banyak juga kok yang sampai 2 - 3 tahun belum bisa bicara dengan lancar. Tapi itu bukan berarti anak tersebut pasti autis. (Ju)

Mungkin yang dimaksud adalah karena memakai dua bahasa anak jadi bingung, dan karena bingung dia jadi delay speech. Kemudian anak-anak dituduh Autis karena belum bisa/terlambat ngomong. Padahal ngga gampang memberi label autis pada seorang anak. Memang most of them belum verbal tapi bukan berarti anak yang ngga verbal itu pasti autis. Banyak test yang diperlukan sebelum melabel seorang anak dengan istilah-istilah tertentu. Dan disinilah susahnya di Indonesia, ngga tau kenapa dokter atau psikolog gampang banget langsung mendiagnosa anak yg telat ngomong dgn autisme. Justru ada beberapa anak autis yang tadinya tidak verbal, setelah diajarkan bahasa Inggris jadi ngomong. Sebabnya mungkin karena bahasa Inggris pronounce-nya lebih simple ketimbang bahasa Indonesia. Contohnya: Sa-tu (dua suku kata) dgn One (satu suku kata) Sem-bi-lan (3 suku kata) dgn nine (saku suku kata) atau Sa-ya ma-u ma-kan dgn I want to eat dll. Pokoknya anak autis itu unik satu dan lainnya belum tentu sama, aku banyak belajar juga dari orangtua lain karena kebetulan kita punya
parents support khusus anak autis. (Du)

Kalo speech delay mungkin ya, tapi kalau autis kok 'rada gak nyambung' gitu. Aku membesarkan anakku pake bhs indo, umur 1,5 th udah fasih banget ngomongnya (w/p cadel). Tapi since anakku sekolah di int'l school, sejak anakku umur 2 th (adik anakku pas lahir) di rumah jadi ngomong campur aduk pake bhs inggris juga (kalau omong ama anakku diusahakan selalu pake inggris). Tapi kalau ngomong sama adiknya hampir selalu pake bhs indo. Gak tau ada hubungannya apa engga, yg jelas adiknya (2 th lebih dikit) ngomongnya belum terlalu lancar, beda jauh sama kakaknya dulu. Tapi pemahaman dan ucapan adiknya dlm bhs inggris jauuuh lebih bagus ketimbang kakaknya umur segitu. Jadi sekarang kalau kami ngomong ama kakaknya, adiknya 100% ngerti, juga kalau diajarin lagu˛ atau apalah in english, adiknya bisa ngucapin dengan benar (w/p cadel), prinsipnya ucapannya betul. Walaupun aku belum kuatir sampai pengen bawa adiknya ke therapist atau apa gitu. Tapi adiknya sama sekali gak nunjukin gejala autis. Hubungannya dengan orang˛x sangat bagus, gak hiperaktif, gak menghindari orang, malah suka banget senyum ama orang. (St)


Sumber Lain:

2003-06-23 13:44:58

Mamaku kerja di rumah....
Bersama d'BC Network, mamaku bisa mendapatkan uang walau setiap hari di rumah saja nemenin aku...
Klik di sini untuk info lengkapnya...



ADSL

Kamar Orang Tua

Cabut Gigi

Digicam + Handycam

Krem Untuk Luka Bekas Gigitan Nyamuk

Obat batuk untuk anak 2 tahun:

Ryzen

Kaos Kaki Panjang

Liburan Menginap Di Ancol

Pengganti Kulkas untuk ASI

Daftar selengkapnya...

Contact Us
 © 2014 dunia-ibu.org